Apr 19, 2011

Apaaaa??? Lantas bagaimana??

Ketika sore ini saya terhanyut dalam buaian pijatan di Peter Cung (kalian semua harus coba btw!! HARUS COBA!!), perhatian saya teralih ke tweet salah satu teman saya. Sepertinya saya tahu tweet itu tentang apa, tapi saya belum dapat gambaran jelas. Maka dari dua bar batere BB yang tersisa, saya langsung bergerilya mencari tweet awalnya. Emotweet. Bukan tweet yang penuh emosi krn marah2. Tapi tweet yang penuh perasaan.

Jadi ini tentang pernyataan (atau pertanyaan retorik) seseorang yang didengar tmn saya tadi. Bunyi pertanyaannya lebih kurang, "Itu kok bisa ya org2 yg hamil di luar nikah itu hidup tenang dan santai dan keluarganya malah mendukung dia?"

Hmmm....

Ini juga pernah ditanyakan beberapa kali ke saya, ketika bbrp teman saya mengetahui bahwa teman saya (yang lain) adalah seseorang yang belum menikah dan sudah memiliki anak. Pertanyaan paling lazim adalah, "Loe gapapa Lan punya tmn kayak gt?" dan pertanyaan paling tidak lazim adalah, "Jadi mereka ngelakuinnya dmana ya?". Hahaha. Saya selalu santai menghadapinya. Mungkin karena saya dari awal memang tdk pernah ambil pusing utk urusan seperti ini.

Bagi saya, melakukan hubungan intim di luar nikah memang bukan hal yang baik dan benar. Tetapi lalu bagaimana jika hubungan itu sudah terjadi dan sekarang sang perempuan hamil. Apakah orang yang hamil di luar nikah itu harus hidup tdk tenang, tdk santai dan tdk memiliki keluarga yang mendukung dia? Apa itu berarti orang yang hamil di luar nikah itu harus terus hidup dalam penyesalan karena tdk mampu menjaga nama baik dirinya dan keluarganya sepanjang hidupnya? Kalau memang begitu, bukankah lebih baik mereka mati saja ya? Tapi nanti kalau mereka mati, semua org akan menangisi dan menceritakan betapa dia tdk perlu melakukan itu karena semua org akan mendukungnya. Begitu kan biasanya.

Yang perlu saya jelaskan di sini, ada banyak alasan mengapa seseorang memiliki anak tanpa memiliki pernikahan. Alasan pertama yang menjadi kelaziman generalisasi dalam masyarakat Indonesia adalah karena ia berhubungan badan di luar nikah. Tapi apa semua seperti itu? TIDAK.

Alasan kedua adalah karena ia diperkosa. Bayangkan betapa sakitnya perempuan itu ya, sudah lah ia hamil tanpa suami yang mendampingi, dikecam lingkungan, mempunyai tekanan batin bahwa ia mempermalukan keluarga, dan tetap dituduh berhubungan badan sebelum menikah pula.  Get into her shoes, darla. Would u be strong enough to stand with your head held high if you were in her position?

Alasan ketiga yang tidak lazim tetapi ada, adalah bahwa ia menjadi seseorang yang dititipkan anak tersebut. Mungkin orangtua kandung si anak ada masalah tertentu sehingga anaknya dititipkan ke perempuan ini. Kalau orang tahu cerita awalnya, semua pasti beranggapan perempuan ini adalah dewi penyelamat. Tetapi kalau tidak tahu, pasti semua menyangka perempuan ini hamil di luar nikah. Kasihan.

Alasan keempat yang paling tidak lazim tetapi sekali lagi ada adalah karena pilihan. Ada perempuan yang naluri keibuan dan kerinduannya akan anak kandung sudah membumbung tetapi kesiapan mentalnya menjadi seorang istri tidak ada, memilih untuk bersedia disetubuhi (hehehe) dan setelah itu ditinggalkan. Itu pilihan. Jangan terperangah dulu ya. Karena dulu, saya pernah berpikir seperti itu. Bahwa saya siap memiliki anak tapi belum siap memiliki suami. Apakah pemikiran itu salah? Oh diliat dr mana dulu. Orang sih bebas mempunyai pikiran apapun juga donk. Hehehe.

Back to "perempuan yang hamil di luar nikah" tadi, lalu bagaimana sih masyarakat meminta mereka bertindak tanduk? Harus terus hidup dalam penyesalan? Engga kan. Masyarakat Indonesia itu banyak yang sibuk berkutat di "Apa?" tanpa memikirkan "Lantas bagaimana?". Itu yang membuat kita tidak maju. Kalau bisa memutar waktu, para perempuan yang hamil di luar nikah itu pasti juga akan memutarnya sehingga hal ini tdk perlu terjadi. Tapi jika sudah terjadi, lantas bagaimana? Haruskah kita sisihkan mereka?

Kalau dulu ada iklan layanan masyarakat bahwa orang yang hidup dengan Aids itu tdk boleh ditinggalkan, begitu juga perempuan yang hamil di luar nikah, menurut saya. Jangan ditinggalkan. Jangan dipandang sebelah mata. Mereka hamil saja sudah harus melewati fase naik turun emosi. Belum lagi kandungan yang terus membesar. Belum lagi kelelahan harus menjelaskan kepada semua orang yang sudah mencap mereka salah dan tdk mau tahu apa dan bagaimana2nya. (Kalau ketemu yang seperti ini, mending ngga usah dijelaskan ngga sih? Dijelaskan juga ga guna, mereka uda pandang sinis duluan).

Pilihan ketika mereka mengandung adalah dua. Mempertahankan atau menghilangkan. Dua2nya buah simalakama. Mempertahankan juga sang perempuan terus dikecam, belum lagi jika kecaman itu juga menimpa anaknya. Menghilangkan juga sama aja. Malah lebih dikecam lagi. Jadi tidak ada pilihan dalam hal ini. Perempuan yang memilih mempertahankan dan memperjuangkan hidupnya dan hidup sang janin itu menurut saya luar biasa. Betapa mereka harus menahan tangis melihat dan mendengar pandangan dan gunjingan org terhadapnya. Betapa mereka harus menahan sakit hati ketika dipersalahkan lagi dan lagi. Betapa di saat yang sama, mereka harus menjadi kuat dan tegar untuk janin yang dikandungnya. Dan keadaan seperti ini, more likely, akan terus ada bersama mereka sampai sepanjang hidupnya. Itu berat lho. Berat sekali.

Lalu bagaimana dengan perempuan yang memilih untuk menghilangkannya? Oh, bisa kasitau orang tua bisa engga. Bisa minta dikuret atau minum pil aja terus2an. Bisa aborsi, hilang, lalu hidup tanpa orang tahu apa yang sudah terjadi. Nah kalau begitu, apa opsi 'menghilangkan' ini yang terbaik? Saya sih ngga pernah berani ya mengacu seseorang ke opsi ini. Secara duniawi memang lebih mudah, tetapi secara akhirat lebih berat. Hehehe. Intinya, dua pilihan ini berat bagi perempuan yang hamil di luar nikah. Lalu haruskan kita menambah beban hidup mereka dengan memandang sebelah mata dan menjauhi? Saya pribadi beranggapan, tidak. Ini sudah terjadi. Apa yang perlu dipikirkan sekarang bukan "Apa?" tetapi "Lantas bagaimana?".

Tetap berteman, tetap mendukung mereka utk terus hidup bagi dirinya dan bagi anaknya. Menjadi satu sistem pendukung yang baik lah bagi hidupnya. Tidak perlu berlebihan. Semua bisa berjalan seperti biasa. Urusan hubungan intim yang mereka lakukan di luar nikah, biar mereka yang mempertanggungjawabkannya nanti sendiri2. Tapi kita, sebagai teman, sebagai bagian dari masyarakat, dapat membuat hidupnya jauh lebih mudah bahkan hanya dengan tidak memandang rendah mereka. Itu saja. Sederhana.

Jadi kembali ke pertanyaan "Itu kok bisa ya org2 yg hamil di luar nikah itu hidup tenang dan santai dan keluarganya malah mendukung dia?", saya akan menunduk, tersenyum, dan berkata "Bisa donk mbak, karena mereka harus tenang untuk terus hidup dan menghidupi. Mbaknya ndak pernah melakukan kesalahan tha dalam hidupnya? Lha mbak bertanya seperti itu saja menurut saya sudah salah lhooo.. :)"


Senyum dulu ah.. :)

3 comments:

  1. OOT...pas pertama liat...aku pikir kamu yang hamil, Bul :D moral of the story : never judge a blog post by its thumbnail XD

    ReplyDelete
  2. huauahahahhahahahah.. statment yg terakhir itu super sekali sodara bulan..

    btw, ade ape? sape yg nanya? *penasaran*

    ReplyDelete
  3. Cecil: dan ak kaget pas baca nama kamu kasi komen Cil..ak berpikir "Hah...Bu Cecil (guru di sekolah) komen di blog gw?? Huwaaaa.." dan pas baca isi komennya, lho kok ga kayak Bu Cecil ya..Moral of the story: never judge a comment giver by her first name..Hihihi

    ReplyDelete