Feb 15, 2011

Racun Kehidupan..


Setiap orang memiliki kegemaran akan hal2 tertentu. Ada yang suka sepatu ada yang suka tas. Ada yang suka makan ada yang suka berdiet. Ada yang suka akupuntur ada yang suka akupresur. Ada yang suka wafer coklat ada yang suka es krim. Sungguh ini contoh yang sangat subjektif. Hihi. *sambil nurunin cermin..

Saya sendiri tidak mengategorikan diri saya ke dalam satu hal yang pasti. Seperti penyematan saya di post sebelumnya, saya kan misterius, jadi saya tdk bisa blg 'I'm a bag person' karena pada dasarnya saya juga suka sepatu. Saya juga tdk bisa bilang 'I like eating' karena ada suatu masa dimana saya mati2an berdiet karena badan sudah membesar dan semakin begah. Jadi ya begitu. Saya misterius. Dan antara misterius dan rakus itu memang beda tipis. Hihihi. *getokpalabulan

Kali ini saya ingin bercerita tentang racun kehidupan yang sekarang sedang melanda. Saya menyumpahserapahi racun yang sekarang sedang saya nikmati ini. Hiks. Hehehe. Racun ini bernama BATIK. Dudududu..

Saya suka batik memang sudah lama. Dulu, saya hanya suka menciumi koleksi batik mamah saya. Baunya enak, bikin nyenyak tidur. Semakin lawas semakin enak. Hehehe. Nah, sejak saya berkecipak dan mulai melihat batik2 selain sogan (iya iya, saya waktu itu masih pakai kacamata kuda), saya mulai menggila. Dan racun batik ini diperparah ketika saya sudah mulai bereksperimen membuat sepatu dari bahan batik. Setiap lihat batik, JRENG!!, orgasme. Huhu.

Saya jadi mulai belajar berbagai macam motif batik dan asalnya. Dan tingkah polah kelaguan saya makin menjadi. Karena dikasihtahu seorang kakak (yang sudah lebih dulu berkecipak di dunia perbatikan) bahwa kalau beli batik lebih baik yang batik tulis karena itu berarti membantu memajukan pengrajin batiknya juga, saya mulai pilih2. Dulu, semua batik yang murah meriah (baca: 30-40ribu) saya habek, skrg melihat tulisan 'batik cap' saja saya mulai sombong. Apalagi kalau tulisannya 'batik print', wih, dada babaaaay. Hehehe. Boong denk. Saya masih beli kok batik cap. Kalau print sudah tidak lagi, jadi paling engga saya beli yang cap lah. Lumayan ya kak, saya membantu memajukan tukang capnya. (???)

Jadi kenapa saya bisa menyebutnya racun? Racun memang, karena saya kalau lihat batik suka kalap dan langsung membeli. Dan ada harga ada rupa. Batik tulis itu harganya bikin miris hati. Tapi demi melihat proses pembuatannya, saya sadar harganya memang sewajarnya tinggi.

Lalu kini racun ini makin didukung oleh kehadiran jejaring sosial Facebook. Dulu saya sudah sangat jarang membuka Facebook dari komputer karena sudah sinkron ke BB, jadi saya buka dari BB saja. Dan karena asik dengan Twitter, Facebook pun hanya saya buka notifikasinya. Jadi saya ngga liat2 'news feed'-nya. Nah sejak saya diminta mencari batik tulis bakaran Madura oleh teman saya (yang sekarang sedang ada proyek dengan saya), saya malah jadi tahu bahwa pergolakkan batik di Facebook itu cepat sekali berputar. Tren batik juga dapat dilihat dari Facebook. Saya jadi makin rajin membuka Facebook dari komputer lagi untuk mendapatkan gambaran jelas dari batik yang ditawarkan. Dan racun itu melanda, JRENG!!, klik BCA pun sepertinya menyetujui racun yang menyerang saya ini. Hadeuh.

Oh, dan mungkin ini hal yang bikin tertawa. Seluruh batik tulis saya tidak (atau belum) saya gunakan untuk apapun. Yang saya gunakan selama ini (dijadikan baju, sepatu, bantal) hanyalah batik cap saya. Jadi batik tulis itu untuk apa? Oh, untuk saya simpan, lalu terkadang saya buka, saya elus2, lalu saya cium2. Hehe. Wangi malam-nya menghadirkan perasaan senang yang membuncah luar biasa. Uta dulu bingung kalau saya sedang duduk diam, membuka batik dan mulai menciuminya. Sekarang ia ikut menikmatinya. Sambil belajar beberapa motif batik. Hehehe.

Ini racun kehidupan. Tapi racun kehidupan yang sungguh sangat dapat dinikmati. Dan ini racun kehidupan yang makin membuat seseorang hidup. Menimbulkan semangat. Semangat menimbulkan keinginan berkarya. Berkarya menghidupkan manusia. Jadi saya rasa, setiap manusia membutuhkan racun kehidupan semacam ini. :) Yakan yakan yakaaaan. Ya dooooonk. :)

Senyum dulu ah..

PS: Saat saya mencari gambar untuk post saya kali ini, saya menemukan beberapa toko online batik (lagi), dan akhirnya saya membeli batik dr toko2 ini. Hehehe. I know, just that easy. *geleng2 sama diri sendiri

2 comments:

  1. Anonymous1:40 PM

    holllaa.. Boleh minta emailnya? ak mau tau tentang usaha km lebih lagi..thanks y^^

    ReplyDelete
  2. Holla juga.. :) Monggo email saya rembulan_indira@yahoo.com.. :)

    ReplyDelete